EVALUASI KINERJA MESIN PEMIPIL JAGUNG
TIPE PJ - 700 MENGGUNAKAN BERBAGAI VARIETAS
JAGUNG
NASKAH SEMINAR PROPOSAL
Oleh:
NIM. 091710201040
DPU
: Ir. Hamid Ahmad
DPA
: Dr.
Siswoyo Soekarno, S.TP, M.Eng
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
2013
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman jagung (Zea Mays L.) merupakan produk pertanian yang mengandung nilai gizi yang
hampir sejajar dengan beras yang memiliki keluwesan lebih. Selain sebagai bahan
makanan pokok, jagung bisa diolah menjadi beragam produk industri makanan. Diantaranya jagung dapat diolah
menjadi sirup, minyak nabati, aneka makanan kecil, maizena, margarine, dan bir.
Jagung juga dapat diproses menjadi bahan campuran makanan ternak, terutama
unggas (Haryoto, 1995).
Hasil jagung per hektar di Indonesia relatif masih
lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Sedangkan kebutuhan jagung terus
melonjak dari tahun ke tahun. Hingga impor bahan pangan ini tetap harus
dilakukan pemerintah. Bukan berarti Indonesia tidak berusaha meningkatkan
produksi jagungnya, namun perkembangan yang ada tidak bisa mengejar peningkatan kebutuhan jagung. Hal
ini bisa dilihat bahwa kurang lebihnya 50% dari total kebutuhan nasional
tanaman jagung digunakan pada industri pakan ternak (unggas). Dalam periode 2005-2020, kebutuhan jagung untuk industri
pakan diperkirakan 51,5% dari kebutuhan jagung nasional, dan bahkan setelah
tahun 2020 lebih dari 60% dari kebutuhan tersebut (Anonim, 2005).
Sebagai bahan baku makanan, baik
manusia maupun hewan, jagung yang dibutuhkan harus memiliki kualitas tinggi.
Jagung yang berkualitas rendah, maka akan mengakibatkan kadar gizi yang rendah
pula. Dampaknya, hasil pangan olahannyapun akan menghasilkan produk yang tidak
berkualitas. Untuk mendapatkan biji jagung yang bermutu tinggi memang tidak
begitu mudah. Penanganan pascapanen yang kurang tepat kadangkala akan
menghasilkan kualitas biji jagung yang kurang baik. Sebagai
contoh banyak produk jagung di tingkat petani yang tidak terserap oleh industri
yang disebabkan oleh beberapa hal seperti : kadar air tinggi, rusaknya butiran
jagung, warna butir tidak seragam, adanya butiran yang pecah serta kotoran lain
yang menyebabkan rendahnya kualitas jagung yang dihasilkan.
1.2 Permasalahan
Permasalahan utama dalam proses
pemipilan jagung dengan menggunakan mesin pemipil jagung ini antara lain:
a)
masih belum ada informasi yang jelas
tentang pengaruh kecepatan putaran mesin terhadap tingkat kerusakan mutu biji
jagung pada berbagai varietas saat proses pemipilan berlangsung,
b)
masih belum ada sosialisasi tentang
hubungan antara berbagai varietas jagung terhadap ketentuan kecepatan putaran
mesin yang dibutuhkan untuk menghasilkan kualitas hasil pipilan yang baik.
1.3
Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa hal sebagai berikut:
a)
mengetahui pengaruh kecepatan putaran
mesin terhadap tingkat kerusakan biji jagung dengan berbagai varietas pada saat
proses pemipilan berlangsung,
b)
mengetahui hubungan antara berbagai
varietas jagung dengan kesesuaian kecepatan putaran mesin yang cocok untuk
masing-masing varietas jagung, sehingga dapat mengurangi tingkat kerusakan biji
jagung pada saat proses pemipilan berlangsung.
1.4
Manfaat Penelitian
Penelitian ini
diharapkan bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut:
a)
memberikan informasi kepada pemerintah,
peneliti, dan petani bahwa dalam pengoperasian mesin pemipil jagung terdapat
pengaruh kecepatan putaran mesin yang harus diperhatikan terhadap tingkat
kerusakan biji jagung,
b)
dengan adanya penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi dalam mengatasi kerusakan biji jagung yang dihasilkan
dari proses pemipilan menggunakan mesin pemipil jagung.
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Jagung
Jagung
(Zea Mays L.) yang masih satu keluarga dengan gandum dan padi merupakan
tanaman asli benua Amerika. Selama ribuan tahun, tanaman ini menjadi makanan
pokok penduduk suku Indian di Amerika. Di Indonesia jagung pertama kali datang
pada abad 17, dibawa oleh Bangsa Portugis.
Sejak kedatangannya, tanaman ini menjadi tanaman pangan utama kedua
setelah padi yang ditanam hampir oleh seluruh petani di nusantara. Bagi petani
yang mengalami kegagalan panen padi karena serangan hama, menanam jagung
menjadi alternatif untuk mendapatkan keuntungan atau minimal untuk menutup
kerugian (Redaksi AgroMedia, 2007). Linneaeus
(1737), seorang ahli botani, memberikan nama Zea mays untuk tanaman jagung. Zea berasal dari bahasa Yunani yang
digunakan untuk mengklasifikasikan jenis padi-padian. Adapun mays berasal dari
bahasa Indian, yaitu Mahiz atau Marisi yang kemudian digunakan untuk
sebutan spesies. Sampai sekarang nama
latin jagung disebut Zea mays Linn. (Rukmana,
1997).
2.2
Taksonomi Tanaman Jagung
Dalam
sistematika (taksonomi) tumbuhan, kedudukan tanaman jagung diklasifikasikan
sebagai berikut.
Kingdom :
Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Family : Poaceae (Graminae)
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L. (Adisarwanto dan Widyastuti, 2000).
2.3 Varietas Tanaman Jagung
Tanaman jagung
yang tumbuh di dunia mempunyai banyak jenis atau varietas. Para ahli botani mengidentifikasi
keragaman genetik tanaman jagung ke dalam ras-ras. Identifikasi ras-ras jagung
secara besar-besaran yang pertama dilakukan di Meksiko. Penelitian yang sama
juga dilakukan di Amerika Serikat. Di benua Amerika telah tercatat 276 ras
jagung, tetapi ras-ras jagung yang asli telah diganti dengan varietas atau
hibrida-hibrida baru.
Para
ahli botani dan pertanian mengidentifikasi bentuk asli tanaman jagung ke dalam
tujuh jenis , yaitu sebagai berikut.
a)
Jagung Tepung atau Flour Corn (Zea mays L, amylacea Sturt),
b)
Jagung Gigi Kuda atau Dent Corn (Zea mays identata),
c)
Jagung Mutiara atau Flint Corn (Zea mays indurata),
d)
Jagung Berondong atau Pop Corn (Zea mays L. everta Sturt),
e)
Jagung Manis atau Sweet Corn (Zea mays L. saccharata),
f)
Jagung Bungkus atau Pod Corn (Zea mays L. tunicate Sturt),
g)
Jagung Ketan atau Waxy Corn (Zea mays L. certain Kulesch) (AAK,
1993).
2.4
Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Jagung
2.4.1 Pemanenan
Pemanenan
jagung untuk kepentingan penyimpanan dan
perdagangan dalam wujud pipilan hendaknya dilakukan setelah tanaman
berumur ± 3,5 bulan. Pada umur demikian
biasanya daun-daun buah jagung (kelobot) telah kering, berwarna putih
kekuning-kuningan, tetapi untuk lebih meyakinkan sebaiknya diambil beberapa
buah dan dikupas, apabila bijinya telah keras, itu tandanya pemanenan dapat
segera dilakukan (Kartasapoetra, 1994).
2.4.2 Pengeringan Awal dan Pemipilan Pengeringan
biasanya dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan pemipilan jagung,
sebab pemipilan tanpa dilakukan pengeringan terlebih dahulu akan menyebabkan banyak
butiran yang rusak, terkelupas kulit, terluka atau cacat, pengerjaanya agak
lambat. Pengeringan dilakukan sampai kadar air turun menjadi sekitar 18 - 20%. Pengeringan bisa dilakukan secara alami maupun
dengan alat pengering jenis Batch Dryer yang menggunakan temperatur udara
pengering antara 50 - 60ËšC, kelembaban relatif 40% (untuk jagung konsumsi, tetapi
untuk jagung bibit temperatur yang digunakan yaitu sebesar 43 - 50ËšC). Untuk pemipilan dengan
menggunakan Corn Sheller yang dijalankan oleh motor. Jagung dalam kondisi
kering awal yang masih bertongkol dimasukkan ke dalam ruang/lubang pemipil (hopper)
dan karena ada gerakan dan tekanan, pemutaran yang berlangsung dalam Corn
Sheller maka butir-butir biji akan terlepas dari tongkol, butir-butir biji
tersebut langsung akan keluar dari lubang pengeluaran untuk selanjutnya
ditampung dalam wadah atau karung. (Kartasapoetra, 1994).
Adapun
beberapa cara memipil jagung tongkol, yaitu:
1) Pemipilan
dengan tangan,
2) Pemipilan
model TPI,
3) Pemipil
model lager,
4) Pemipil
model ban mobil,
6) Pemipil
model sepeda (Haryoto, 1995).
2.5
Mesin Pemipil PJ-700
2.5.1 Prinsip
Kerja
Mesin pemipil jagung ini merupakan
alat pemipil jagung tongkol yang digerakkan menggunakan tenaga motor diesel.
Mesin menggerakkan silinder perontok melalui pulley yang dihubungkan dengan sistem
transmisi sabuk (belt). Putaran silinder
pemipil sama dengan putaran pulley yang digerakkan oleh motor. Ketika
bahan dimasukkan ke dalam penampung (hopper) dimana jumlah pemasukan bahan
diatur dengan pengaturan debit yang terpasang di bawah hopper. Jagung yang
masuk akan berjatuhan dan terjadi gesekan, gencetan antara pasak-pasak pada
silinder yang berputar. Biji jagung yang terpipil akibat himpitan dan gencetan tersebut
akan berjatuhan melewati lubang-lubang saringan menuju outlet I sedangkan
tongkol ke outlet II (Smith & Wilkes, 1990).
2.5.2
Bagian-bagian Mesin Pemipil PJ-700
Adapun bagian-bagian dari mesin
pemipil PJ-700 yaitu sebagai berikut.
1) Hopper,
2) Silinder
Pemipil,
3) Saringan,
4) Unit
Tenaga.
2.6
Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemipilan
Faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil pemipilan jagung antara lain sebagai berikut.
1. Kematangan
Faktor kematangan pada
saat jagung dipanen diharapkan bisa mengurangi tingkat kerusakan jagung waktu
proses pemipilan, karena jagung yang masih muda atau masih belum siap panen
biji jagung akan keriput setelah dikeringkan dan menghasilkan butir pecah /rusak setelah
diproses dengan menggunakan mesin pemipil jagung (Suprapto, 1986).
2. RPM Mesin
Tingkat
RPM yang tinggi menyebabkan tekanan pemutaran dalam Corn Sheller secara cepat,
ini akan menyebabkan kerusakan pada butir-butir jagung baik butir pecah maupun
butir retak, sehingga dalam pengelolaannya kerusakan-kerusakan fisik akan lebih
tampak dan akibatnya banyak hasil harus terbuang dan hal ini bisa mengakibatkan
kerugian karena hasil yang diperoleh lebih rendah dari biaya produksi.
3. Kadar Air
Bahan
Kadar air sangat berpengaruh
terhadap mutu suatu bahan pangan dan hal ini merupakan salah satu sebab
sehingga di dalam pengolahan pangan, air yang terkandung pada suatu bahan
pangan dikeluarkan atau dikurangi dengan cara penguapan dan pengeringan. Kadar air biasanya dinyatakan dengan persentase berat air
terhadap bahan basah atau dalam gram air untuk setiap 100 gram bahan yang
disebut dengan kadar air basis basah (bb) (Safrizal, 2010). Dalam penentuan
kadar air bahan hasil pertanian biasanya dilakukan berdasarkan bobot basah.
Dalam perhitungan ini berlaku rumus sebagai berikut: KA = (Wa / Wb) x 100% (Taib,
1988).
2.7
Mutu Biji Jagung
Untuk
menghasilkan produk bahan-bahan makanan dengan bahan baku jagung yang baik,
maka perlu memperhatikan kualitas biji jagung yang akan digunakan. Pemerintah
sendiri menetapkan persyaratan mutu biji jagung sebagai berikut.
a. Syarat
Umum
Syarat umum meliputi:
1) bebas
dari hama dan penyakit,
2) bebas
bau busuk, asam atau bau-bau asing lainnya,
3) bebas
dari tanda-tanda adanya bahan kimia yang membahayakan.
b. Syarat
Pokok
Syarat pokok untuk biji jagung berdasarkan SNI
01-3920-1995 dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Syarat Mutu Jagung
No.
|
Komponen Utama
|
Persyaratan Mutu (%
maks)
|
|||
I
|
II
|
III
|
IV
|
||
1.
|
Kadar Air
|
14
|
14
|
15
|
17
|
2.
|
Butir Rusak
|
2
|
4
|
6
|
8
|
3.
|
Butir Warna Lain
|
1
|
3
|
7
|
10
|
4.
|
Butir Pecah
|
1
|
4
|
3
|
5
|
5.
|
Kotoran
|
1
|
1
|
2
|
2
|
Sumber : Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2009
BAB
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian
Evaluasi Kinerja Mesin Pemipil Jagung Tipe PJ-700 Menggunakan Berbagai Varietas Jagung
dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Alat dan Mesin Pertanian Jurusan Teknik
Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember pada tanggal 03 - 20 Juni 2013.
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Beberapa
alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
mesin pemipil jagung tipe PJ-700,
2.
grain moisture tester,
3.
hand tachometer,
4.
sopwatch,
5.
timbangan analitis (gr),
6.
timbangan duduk (kg),
7.
karung dan kantong
pastik.
3.2.2 Bahan
Bahan
yang digunakan pada penelitian ini yaitu 2 varietas jagung yang belum dipipil
(Bisi 2 dan Pioneer 21) dan solar sebagai bahan bakar mesin pemipil jagung.
3.3
Metode Penelitian
3.3.1 Rancangan Percobaan
Penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) secara faktorial
yang terdiri atas 2 faktor, yaitu faktor A terdiri atas 2 taraf faktor dan faktor
B terdiri atas 3 taraf faktor. Kemudian tiap faktor pada taraf tersebut
dikombinasikan satu dengan yang lain, dan setiap kombinasi diulang 3 kali.
Dengan ketentuan kadar air jagung tongkol yaitu ± 18%, hal ini dikarenakan
untuk pemipilan jagung tongkol syarat
kadar air yang baik yaitu antara 18 -
20% (Anonim, 2006).
Faktor A : Jenis Jagung Taraf
A1 = Bisi 2 Taraf A2 = Pioneer 21
Faktor B : RPM
Taraf
B1 = 700
Taraf
B2 = 800
Taraf
B3 = 900
Kombinasi
2 faktor perlakuan adalah :
A1B1 A1B2 A1B3
A2B1 A2B2 A2B3
Selanjutnya,
uji faktorial yang digunakan adalah uji Duncan dengan analisis sidik ragam. Adapun
rumus-rumus perhitungan RAL sebagai
berikut :
a. Faktor
Koreksi (FK)
FK =
b.
Jumlah Kuadrat Total (JKT)
JKT =
- FK = Jumlah
Kuadrat seluruh nilai pengamatan – FK
c.
Jumlah Kuadrat Perlakuan (JKP)
JKP =
- FK =
– FK
d.
Jumlah Kuadrat Galat (JKG)
JKG =
JKT – JKP
e.
Derajat Bebas Total (db total)
db total =
rt – 1 = total banyaknya pengamatan – 1
f.
Derajat Bebas Perlakuan (db perlakuan)
db perlakuan =
t -1 = banyaknya perlakuan – 1
Derajat Bebas Galat (db galat) dapat dihitung melalui dua
cara, yaitu:
(1) db galat = db total – db perlakuan
(2) db galat = t (r-1)
= (total
banyaknya perlakuan) (total banyaknya
ulangan -1)
g.
Kuadrat Tengah Perlakuan (KTP)
KTP =
=
h.
Kuadrat Tengah Galat (KTG)
KTG =
=
i.
F hitung
F hitung =
j.
Koefisien Keragaman (KK)
KK =
x 100 %
3.3.2 Alur Penelitian
Mulai
|
Menimbang jagung
sebanyak 5 kg untuk setiap jenis jagung dengan kadar air 18%
|
Jenis jagung :
1. Bisi 2
2. Pioneer 21
|
Mengukur kecepatan putaran mesin pemipil jagung menggunakan Tachometer
|
Rpm mesin yang
digunakan :
1. 700
2. 800
3. 900
|
Jagung mulai dipipil
menggunakan mesin pemipil
|
Data
yang diperoleh yaitu Total Pemipilan; Waktu Pemipilan; Kapasitas
Pemipilan; Efisisensi Pemipilan; Tingkat Kerusakan Hasil Pemipilan; Jumlah
Kotoran Pemipilan dan
Rendemen
|
Analisis
|
Selesai
|
Gambar 3.1 Diagram alir
proses pemipilan jagung menggunakan mesin pemipil
3.3.3 Parameter Pengamatan
1.
Total Pemipilan (TP)
Total pemipilan ditentukan dengan hasil
jagung pipilan yang masih tercampur dengan kotoran yang keluar dari outlet
pengeluaran (1 dan 2). Dengan menggunakan satuan kilogram untuk total
pemipilan.
2.
Waktu Pemipilan (WP)
Waktu pemipilan ditentukan dengan cara
menghitung menggunakan stopwatch saat jagung mulai dimasukkan ke dalam mesin
pemipil sampai tongkol terakhir keluar dari outlet pengeluaran dalam bentuk
pipilan atau dalam bentuk biji. Satuan waktu pemipilan dalam detik.
3. Kapasitas
Pemipilan (KP)
Kapasitas pemipilan ditentukan dengan
menimbang berat total pemipilan (TP)
dan membaginya dengan waktu pemipilan (WP).
Maka kapasitas efektif dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut ini.
………………………………………………..(3.1)
Keterangan :
KP : kapasitas pemipilan (kg/detik),
TP : berat total pemipilan (kg),
WP : waktu pemipilan (detik).
4. Efisiensi
Pemipilan (EP)
Efisiensi pemipilan ditentukan dengan menimbang
berat jagung pipilan (TP) dibagi
dengan berat (awal) total jagung (TJ)
dikalikan 100%, maka efisiensi pemipilan dapat dihitung dengan persamaan
sebagai berikut ini.
x
100 % ………………………………………(3.2)
Keterangan :
EP
: efisiensi pemipilan (%),
TP : berat total pemipilan (kg),
TJ :
berat total jagung (kg).
5. Kerusakan
Hasil Pemipilan (KHP)
Kerusakan hasil pemipilan jagung dapat ditentukan
dengan menimbang berat jagung pipilan pecah atau rusak (JPP) dan dibagi dengan total pemipilan (TP) kemudian dikalikan 100%, maka kerusakan hasil pemipilan dapat
dihitung dengan persamaan berikut ini.
...........................................................(3.3)
Keterangan
:
KHP : kerusakan hasil
pemipilan (%),
JPP : berat jagung pipilan pecah atau rusak
(kg),
TP : berat total pemipilan (kg).
6. Jumlah
Kotoran Pipilan (JKP)
Jagung kotoran pipilan dapat ditentukan
dengan menimbang kotoran yang ikut terontokkan (BK) pada outlet 1 dan outlet 2 kemudian dibagi dengan total
pemipilan (TP) dan dikalikan 100%,
maka jumlah kotoran dapat dihitung dengan persamaan berikut ini.
............................................................(3.4)
Keterangan :
JKP :
jumlah kotoran pipilan,
BK :
berat kotoran outlet 1 dan outlet 2 (kg),
TP :
berat total pipilan (kg).
7. Rendemen
(R)
Rendemen ditentukan dengan menimbang
berat biji terontokkan yang keluar dari outlet 1 (BBT) dibagi dengan berat awal total jagung (TJ) dikalikan 100%. Satuan yang digunakan dalam persen.
.............................................................(3.5)
Keterangan :
R : Rendemen (%),
BBT : Berat Biji Terontokkan (kg),
TJ : Total Jagung (kg).
3.4 Analisis Data
Analisis data yang
dilakukan pada penelitian ini yaitu menggunakan Metode Sidik Ragam dan Uji Duncan. Hasil yang ditampilkan pada penelitian ini adalah dalam bentuk tabel dan grafik yang diperoleh dari pengaruh pada kombinasi
dua faktor perlakuan yang telah diacak
untuk masing-masing parameter pengamatan yang meliputi Total Pemipilan, Waktu
Pemipilan, Kapasitas Pemipilan, Efisiensi Pemipilan, Kerusakan Hasil Pemipilan, Jumlah Kotoran Pipilan, dan Rendemen.
DAFTAR
PUSTAKA
AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung.
Yogyakarta: Kanisius.
Adisarwanto,
T. & Widyastuti, Y. A. 2000. Meningkatkan
Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah, dan Pasang Surut. Jakarta: PT
Penebar Swadaya.
Anonim.
2005. Tingkat Kebutuhan Jagung
[serial online]. http://Kebutuhan Nasional Tanaman Jagung.html [tanggal 27
Februari 2013].
Anonim.
2006. Standar Produksi [serial
online] .http://Warintek.bantul.co.id. [ tanggal 04 April 2013].
Haryoto. 1995. Membuat Alat Pemipil Jagung. Yogyakarta:
Kanisius.
Kartasapoetra,
A. G. 1994. Teknologi Penanganan Pasca
Panen. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Redaksi AgroMedia. 2007.
Budi Daya Jagung Hibrida. Jakarta:
AgroMedia Pustaka.
Rukmana, R. 1997. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta: Kanisius.
Safrizal,
R. 2010. Kadar Air Bahan [serial
online]. http:// Laporan Praktikum Satuan Operasi Kadar
Air Bahan.html [tanggal 28 Februari 2013].
Smith,
H. P. & Wilkes, L. H. 1990. Mesin dan
Peralatan Usaha Tani. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Suprapto.
1986. Bertanam Jagung. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Taib, G. 1988. Operasi
Pengeringan Pada Pengolahan Hasil Pertanian. Jakarta: PT. Mediyatama Sarana
Perkasa.
sip! semoga cepat disisuda!!!! aminnn!!!
BalasHapus